Sunday, February 22, 2015

BERSIKAPLAH KRITIS TERHADAP INFORMASI

Assalamualaikum Wr,Wb
Selamat siang,sudah lama tidak aktif ngeblog,mumpung libur ngepost dikit di blogspot yang sudah mau karatan karena jarang dipake hehehe
Akhir akhir ini sedang hangat-hangatnya kasus tertukarnya injeksi anestesi di salah satu rumah sakit swasta di jakarta.Tapi kali ini saya tidak akan membahas itu.Saya akan menyorot tentang media online yang memberitanya
Didunia yang modern ini,siapa yang tidak kenal internet...,ya sebuah sistem canggih buatan manusia yang memungkinkan manusia dari seluruh penjuru dunia membuka informasi hanya dari layar monitor tanpa harus datang ke lokasi yang bersangkutan,ini tentu akan memudahkan manusia dalam menunjang kegiatannya sehari-hari,terlepas dari sisi negatif yang timbulkan akibat lahirnya internet ini seperti hacker,pornografi yang meraja-lela dll.
Dunia jurnalis juga sangat berkembang pesat di disini,yang dulu hanya mengandalkan kertas sebagai medianya,sekarang sudah naik kelas ke jamannya paper less atau online dengan semua kemudahannya.Teknologi menjadi semakin maju dan berkembang,berita atau informasi yang dulunya hanya di punyai sekelompok orang tertentu,sekarang sudah menjadi konsumsi umum.Masih ingat di benak saya,waktu saya kecil hanya sedikit orang yang punya televisi,apalagi televisi di sertai parabola sebesar parasut terjun payung,wah... pasti itu orang terkaya sekampung hha.Sekarang dengan handphone kelas low end saja sudah bisa nonton televisi plus tambahan koneksi internet untuk mencari berita terkini
Tapi dengan mudahnya teknologi dan semakin mudahnya konsumsi media online ada nilai-nilai yang hilang dari sisi jurnalis menurut saya:
1.Verifikasi dari narasumber yang ada
Pernah saya membaca pada situs media online terbesar di indonesia yang menulis tentang vaksin,kebetulan yang menjadi narasumber adalah teman kerja saya ( saya bekerja di rs swasta di jogja),mereka hanya melakukan wawancara sebatas via telpon saja,menurut kacamata orang awam seperti saya kok agaknya ini janggal,situs sebesar itu apakah tidak sanggup mengirimkan jurnalisnya ke lapangan untuk menjaga kebenaran dari berita yang disampaikan.
2.Berita yang obyektif dan mengedepankan fakta
Masih ingat di benak kita,pilpres yang baru di gelar beberapa bulan yang lalu.Terdapat semacam dinding besar yang menutupi objektifitas penyampaian berita saat itu.apakah sebegitu rendah nya tingkat independensi suatu penyedia layanan informasi ke publik
mungkin ini uneg uneg yang ada di pikiran saya,sebagai manusia yang dibekali akal oleh tuhan,saya pikir kita harus pintar-pintar mencerna berita yang ada.tidak langsung percaya apalagi sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Sekian
Terima kasih



No comments:

Post a Comment

Pengalaman Psikotes Online PT Sayap Mas Utama sebagai Kepala Gudang

       Pengalaman saya mengikuti tes online di Wings untuk posisi kepala gudang merupakan salah satu momen yang cukup berkesan dalam proses ...