Pernah baca berita ini
nggak (link).Sepertinya
memang sudah menjadi rahasia umum terkait hal ini. Dimana sebuah
industri farmasi selalu mempunyai seorang medical representative yang
dikirim untuk mempromosikan produknya ke orang yang terkait pada
penjualannya, bisa Dokter, Rumah sakit atau orang orang yang bekerja
di lingkup tersebut. Pemasaran produk biasanya diikuti
perjanjian,seperti pada perdagangan pada umumnya. Gampangnya "lho
berani beli berapa nanti kalau semakin banyak ane kasih diskon sama
bonus ".Praktek ini terlihat sepertinya terlihat normal-normal
saja, akan tetapi kalau dikondisikan untuk produk kesehatan
maka yang terjadi di lapangan adalah ketidak sesuaian antara sakit
yang diderita dengan obat yang diterima. Dokter dapat meresepkan obat
yang sekiranya kurang perlu untuk pasien karena mengincar bonus yang
diberikan dari industri farmasi. Bukan bermaksud merendahkan profesi
dokter tetapi ini hanya oknum tertentu saja,tentunya masih banyak
yang lainnya yang melakukan hal yang sama.
Pada level Rumah Sakit atau Apotek, Apoteker juga
tidak punya kekuatan yang kuat ( menurut saya),karena seperti bisnis
pada umumnya yang diincar pertama itu adalah profit, owner yang
memegang kekuasaan penuh, harus tunduk ke atasan karena semakin besar
profit juga siapa yang tidak mau?. Benteng terakhir agar kita tidak
menjadi "mainan" industri farmasi adalah sebagai pasien
kita harus aware dan kritis terhadap apa yang diberikan kepada kita,
pasien boleh menolak diberikan obat jika memang dirasa tidak perlu,
patut curiga dengan penggunaan obat yang berbagai jenis tetapi untuk
penyakit yang terhitung sepele seperti flu dan pilek.
No comments:
Post a Comment