Friday, February 3, 2017

Dunia farmasi indonesia hanyalah mainan raksasa industri farmasi


Pernah baca berita ini nggak (link).Sepertinya memang sudah menjadi rahasia umum terkait hal ini. Dimana sebuah industri farmasi selalu mempunyai seorang medical representative yang dikirim untuk mempromosikan produknya ke orang yang terkait pada penjualannya, bisa Dokter, Rumah sakit atau orang orang yang bekerja di lingkup tersebut. Pemasaran produk biasanya diikuti perjanjian,seperti pada perdagangan pada umumnya. Gampangnya "lho berani beli berapa nanti kalau semakin banyak ane kasih diskon sama bonus ".Praktek ini terlihat sepertinya terlihat normal-normal saja, akan tetapi kalau dikondisikan untuk  produk kesehatan maka yang terjadi di lapangan adalah ketidak sesuaian antara sakit yang diderita dengan obat yang diterima. Dokter dapat meresepkan obat yang sekiranya kurang perlu untuk pasien karena mengincar bonus yang diberikan dari industri farmasi. Bukan bermaksud merendahkan profesi dokter tetapi ini hanya oknum tertentu saja,tentunya masih banyak yang lainnya yang melakukan hal yang sama.

Pada level Rumah Sakit atau Apotek, Apoteker juga tidak punya kekuatan yang kuat ( menurut saya),karena seperti bisnis pada umumnya yang diincar pertama itu adalah profit, owner yang memegang kekuasaan penuh, harus tunduk ke atasan karena semakin besar profit juga siapa yang tidak mau?. Benteng terakhir agar kita tidak menjadi "mainan" industri farmasi adalah sebagai pasien kita harus aware dan kritis terhadap apa yang diberikan kepada kita, pasien boleh menolak diberikan obat jika memang dirasa tidak perlu, patut curiga dengan penggunaan obat yang berbagai jenis tetapi untuk penyakit yang terhitung sepele seperti flu dan pilek.

No comments:

Post a Comment

Pengalaman Psikotes Online PT Sayap Mas Utama sebagai Kepala Gudang

       Pengalaman saya mengikuti tes online di Wings untuk posisi kepala gudang merupakan salah satu momen yang cukup berkesan dalam proses ...